Tomy, Mengapa Mesti Bunuh Diri?
Zaman saya masih SMP dulu, saya anggap masa kecil yang indah dan bahagia. Walau saya tidak bersama kedua orang tua (saya ikut bude saya) namun saya bisa merasakan bahwa hidup itu indah, bahagia dan menyenangkan. Walau dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, boleh dikatakan tergolong pas-pasan.
Banyak keinginan yang hanya berada dalam awang-awang belaka. Banyak hal yang tak bisa saya raih, namun saya menerima kesemuanya itu sebagai hal yang wajar.
Membaca Koran Surya pagi ini, saat saya mampir di Kantor DEKOPIN Daerah Kota Malang, yang berjudul Kalah Tenis, ABG Bunuh Diri, saya jadi tidak habis pikir. Betapa tidak, hanya karena menghilangkan SIM dan STNK serta gagal masuk tim tenis untuk pekan olahraga daerah, murid kelas II SMP pilih bunuh diri.
Menurut Surya, alasan bunuh diri itu terungkap dengan ditemukannya surat wasiat dalam secarik kertas. Dalam surat wasiat yang ditulis tangan itu, Tomy mengatakan bahwa dia mengakhiri hidup karena telah jadi beban keluarga.
Bahkan sehari sebelumnya, ia Kirim SMS, Pamit Mati. Brinda, teman sekelasnya menuturkan, dirinya sempat dikirimi pesan singkat atau short massage service (SMS) oleh korban, Senin (12/5) malam, sekitar pukul 20.00 WIB. Isi SMS tersebut hampir sama dengan surat wasiat yang ditinggalkan Tomy di kamar tidur di rumahnya. Yakni meminta maaf atas semua perbuatannya selama ini, dan menitip salam kepada teman-temannya yang lain. Bahkan, dalam SMS tersebut Tomy juga menjelaskan dirinya telah lama menjadi beban bagi keluarganya. Sehingga, lebih baik ia mati.
Mendapat SMS tersebut, Brinda menyangka itu hanya iseng Tomy belaka. Ia pun sempat menunjukkan isi SMS itu ke teman-teman Tomy yang lain. Tapi esok harinya, Brinda sangat kaget setelah mendengar pemberitahuan di sekolah bahwa Tomy meninggal.
“Berarti isi SMS-nya itu benar,” kata Brinda.
Oh, alangkah pedih nian nasib Tomy Perwira Jati, 14 tahun, yang lebih memilih mengakhiri hidupnya ketimbang ketimbang curhat kepada orang tuanya.


erween
sungguh beban mental dewasa ini lebih berat dibanding semasa kita dulu
May 14th, 2008 at 10:59 pmdjunaedird
Kini, perhatian orang tua dalam hal kasih sayang maupun perkembangan jiwanya, perlu mendapat porsi yang lebih.
May 14th, 2008 at 11:32 pmUang hanyalah sekedar sarana.
nothing
ini kata temen, hidup itu berat jadi biasakan lah
May 15th, 2008 at 12:28 amsandynata
akhir-akhir ini saya lihat adik adik kita yang masih sekolah s/d mahasiswa banyak yang ‘cengeng’ entah kenapa..
apakah karena pengaruh sinetron yang sering mempertontonkan kekerasan, kelemahan, penyiksaan, kebodohan dan ketololan? hehehehe..
tapi memang kalau kita lihat ke belakang, pada jaman2 kita masih muda dulu.. ciee..
sangat jarang toh kita temui kasus seperti ini..
dulu paling banter mah cuma, mbolos, minggat.. de es be..
May 15th, 2008 at 8:15 amfajaws
menambah 1 lagi kisah tragis sebuah bangsa yg mau merayakan kebangkitan nasionalnya yang ke-100. sungguh ironis. apa benar negara Indonesia bisa melindungi segenap tumpah darah, bla, bla, dst?
May 15th, 2008 at 9:35 amdhalena
ah, kenapa harus ada pemikiran sesingkat itu…
May 15th, 2008 at 11:05 amame268
ya, saya pribadi amat ketakutan dg pengaruh sebuah kotak ajaib bernama tivi.
May 15th, 2008 at 12:31 pmsandynata
tivi masih gak seberapa dibanding kotak ajaib nan tipis yang namanya LCD monitor yang terhubung ke sebuah PC yang terhubung juga ke koneksi internet.. heheehehe..
May 15th, 2008 at 12:39 pmame268
@sandy: hehe.. ya, itu lebih berbahaya lagi. apalagi kalo koneksinya unlimited.
May 15th, 2008 at 12:51 pmnoki
ya harus ya siswa jangan taku konsul ke BK, kan gratis. dulu masih sekolah STM paling sering masuk BK soal ya
May 15th, 2008 at 1:08 pmheLL
duh.tragis.bener.tuh.anak..
May 15th, 2008 at 3:05 pmmacih.muda.udah.mati…
Vi
Waduh jadi serem yah denger n liatnya, jaman muda n kecilku dulu gak ada deh yg bunuh2an diri macam ini, paling banter juga mogok bicara n sok minggat tp balik kucing lagi hehehe …
“
May 15th, 2008 at 3:36 pm“apa ini kurangnya perhatian dan kasih sayang org tua pada anak ya? atau terlalu kerasnya cara org tua dalam mendidik si anak? atau mungkin terlalu banyaknya contoh yang tergambar dalam bentuk sinetron, film, kartun, majalah, komik dll isi sendiri …
perempuan
@ame268: Alhamdulilah pak, saya hampir blm pernah melihat tv selama 3 bln trakhir ( krn memang tdk pny tv.red)
May 21st, 2008 at 3:12 pm