Arema Seperti Kehilangan Roh
Dengan harap-harap cemas, saya nonton laga Arema vs PSMS sore tadi, di kantor bersama rekan-rekan yang lain. Sementara dalam hati tak lepas dari doa. Sesekali diselingi dengan teriakan-teriakan manakala peluang Arema muncul di depan gawang, atau saat gawang Arema dalam bahaya.
Dengan berjibaku, dan dengan penuh susah payah, lewat kaki Emilie Mbamba, Arema menyeploskan gawang yang dijaga dengan ketat oleh Markus Horison.
Gooooooool !!!!!
Setelah itu, dengan penuh semangat Arema terus menggempur, sesekali juga sempat tergempur. Namun Hendro Kartiko dengan tangkas bisa menghalau. Hingga turun minum - pemain minum air putih, saya minum rokok dan minum kopi.
Babak kedua lanjut. Rame. Penuh semangat. Hingga peluit panjang pun ditiup wasit.
Arema harus segera angkat koper, deh.
Meskipun Arema main dengan bagus, sangat bagus malah. Namun mereka seperti kehilangan roh. Ya, karena Aremania harus meninggalkan atributnya di dalam laci atau gudang, terasa ada sesuatu yang hilang. Roh Arema sebagian (besar) saya pikir terletak pada atribut itu. Jadinya: KALAH DEH!
Apalagi mereka sempat menamakan diri supoter Wong Malang. Ini mengingatkan saya Ayam Goreng Wong Solo. Di mana kalau menunjuk dengan jempol. Bukan telunjuk.
Namun, lepas dari itu semua, saya puas dengan penampilan Arema sore ini.
Next Time Better, Crazy Lion.
Catatan: dengan dilarangnya atribut Aremania hadir di stadion di seluruh Indonesia (apa stadion galadesa juga termasuk, ya?) saya menjadi prihatin. Karena secara otomatis produsen atribut Aremania dan out-outnya, bakal libur selama 3 tahun.
February 1st, 2008 at 2:34 pm
:”> telat mublishe
February 2nd, 2008 at 1:23 am
cik ga tlat tak gantine tanggale,
sik sik, cb tak edit e
February 2nd, 2008 at 1:35 am
wis aman,
*lirik tanggal publish*
jadi jika dilihat di halaman arsip msh berurutan ama artikel arema sbelumnya.,