Komunitas Blogger Malang (Ngalam) Komunitasnya Arek-arek Blogger Malang (Ngalam) Raya

Saling Klaim Kemenangan

11.15.2008 · Posted in Opini

Hasil penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia LSI menunjukkan bahwa perolehan suara pasangan Ka-Ji (50,44 persen) tidak berbeda signifikan dengan perolehan suara pasangan Karsa (49,56 persen). Perbedaan perolehan suara yang tidak mencapai angka 1% tersebut membuat, secara ilmiah, belum ada pasangan yang bisa dikatakan menang. Karena prosentase perbedaan suara berada dalam margin of error, yaitu 1-2%.

Hal ini lantas disikapi oleh masing-masing kandidat dengan saling klaim kemenangan. Masing-masing mengklaim, bahwa berdasarkan hitungan manual yang mereka lakukan, mereka memperoleh suara di atas rivalnya. Mereka mengatakan bahwa data tersebut mereka peroleh dari saksi-saksi mereka di tingkat TPS. Selain itu sudah ada laporan kecurangan yang terkait dengan manipulasi hasil penghitungan.

Melihat hal ini masyarakat harus bijak menyikapi keadaan. Saling klaim dalam dunia poltik itu biasa. Bahkan kalau tidak ada klaim bisa dibilang kurang afdhol.

Seorang teman pernah menceritakan kepada saya tentang data yang dimiliki oleh salah satu kandidat. Hal ini sebenarnya terjadi atau terkait Pilgub putaran pertama. Tapi kiranya hal ini bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi masyarakat.

Teman ini diajak oleh salah seorang temannya untuk membantu mengumpulkan data perolehan suara masing-masing kandidat dalam Pilgub putaran pertama lalu. Pengumpulan data tersebut dilakukan oleh salah satu partai pendukung salah satu kandidat.

Menurut informasi dari teman tersebut, para aktivis poltik, termasuk saksi-saksi di daerah kurang bekerja maksimal, untuk tidak mengatakan bahwa para pekerja politik tersebut tidak profesional dalam kerja. Sulit untuk mendapatkan data faktual tentang perolehan suara di masing-masing TPS secara cepat dan tepat. Yang banyak diperoleh justru langsung rekap hasil perdesa/kelurahan. Bahkan ada yang baru bisa didapatkan hasilnya ketika sudah dihitung ditingkat kecamatan. Dan yang seperti cukup banyak. Tim pengumpul data dibentuk, selain untuk mengumpulkan data fersi kandidat, juga untuk mengecek dan mengontrol adalah kecurangan atau manipulasi suara. Dengan diperolehnya data mulai tingkat TPS, kemudian rekapitulasi di tingkat desa/keluraha, hasil penghitungan di tingkat kecamata, kemudian di tingkat kabupaten/kota, dan akhirnya propinsi, maka akan di ketahui di level mana terjadi perubahan suara. Itupun kalau ada.

Tapi karena kinerja tim tidak maksimal, maka sulit untuk mengetahui ada tidaknya kecurangan.

Tim pernah datang ke tim pusat pemenangan untuk berkoordinasi. Tim pusat sendiri sebenarnya juga punya program pengumpulan suara. Bahkan tim pusat ini akan mengeumpulkan data perolehan suara beserta bukti-bukti faktualnya mulai dari tingkat TPS. Bukti-bukti tersebut akan dikirim via fax. Tapi kinerja tim pusat justru lebih parah. Bahkan tim pusat tidak menghasilkan data yang bisa dijadikan pegangan oleh tim kalau ada perbedaan hasil penghitungan di masing-masing tingkatan.

Di Pilgub putaran kedua sangat boleh jadi hal tersebut sudah diperbaiki. Tapi siapa tahu kenerjanya juga tetap begitu-be

Comments are closed

%d bloggers like this: