Lek Sampean Keentekan Isi Blog
Saya juga sering mengalaminya. Sampean merasa ndak tahu mau nulis apa. Di depan sampean juga hanya ada selembar kertas putih atau layar monitor yang kosong, tanpa satu kata apa pun.
Saya paham betul masalah sampean. Saya juga sering mengalaminya. Mati gaya, kehabisan dan kata-kata. Rasanya seperti bertemu cul-de-sac, jalan buntu, dan ndak tahu mau ngapain.
Untuk sebagian orang, menulis memang lebih sulit dari apa pun. Sampean mungkin ahli statistik, jago matematika, memasak, mengganti kran air yang rusak, memperbaiki sepeda anak-anak, menambal ban kempes. Tapi, menulis? Halah. Tobat … tobat …
Padahal menulis itu sebenarnya hanya masalah bagaimana memulainya saja. Ini tentang kebiasaan. Begitu sampean sudah melewati tahap “mulaiâ€, proses selanjutnya ibarat melaju di jalan tol.
Beberapa penulis kawakan menetapkan waktu tertentu untuk menulis dan memilih waktu di pagi hari untuk mulai menulis karena biasanya pikiran, ide, imajinasi, kita lebih terang pada saat itu. Tapi, ada sebagian juga yang baru menyala setelah malam tiba.
Memang ndak ada resep jitu untuk menulis secara produktif. Ada begitu banyak teori. Dan, tiap orang punya gaya dan cara masing-masing, sesuai karakter, kebiasaan, dan sebagainya. Gaya saya mungkin ndak pas buat sampean, begitu juga sebaliknya.
Sampean mungkin lebih cocok menulis di malam hari, ketika suasana sudah sepi, sehingga bebas berimajinasi. Atau barangkali sampean lebih suka menulis sambil nongkrong di kafe dan menyantap makan siang.
Temukan kebiasaan sampean sendiri, pilihlah gaya yang sampean anggap cocok. Selanjutnya biarkanlah imajinasi sampean yang bergerak liar. Imajinasi itu akan melayang ringan begitu sampean sedang menulis.
Yang penting, sampean jangan sampai merasa kalah duluan, menganggap menulis itu sulit. Menulis itu gampang kok, seandainya sampean tahu bagaimana menyiasatinya. Soal bagus dan tidak, itu urusan nanti. Yang penting menulislah.
“Masalahnya, apa yang mau ditulis?†begitu sampean bertanya.
Wah, banyak …. Ada ribuan persoalan, kejadian, pemandangan, perasaan, dan sebagainya, yang bisa menjadi bahan tulisan, Ki Sanak. Dalam hidup ini, semua hal bisa ditulis. Apa pun yang sampean lihat, rasakan, dan dengar, bisa jadi bahan tulisan.
Misalnya begini. Suatu pagi sampean bangun ketika hujan turun bak dicurahkan dari langit. Kebetulan, motor atau mobil sampean kok ya mendadak mogok. Atau kempes bannya. Padahal sampean harus buru-buru ke kantor karena ada rapat dengan bos.
Sampean terpaksa naik angkot ke kantor dengan celana panjang digulung supaya tak basah. Ibu-ibu terpaksa pergi ke pasar dengan risiko kaki menginjak tanah becek. Mana payungnya jebol pula. Sudah begitu, anak-anak pun rewel dan mendadak mogok ndak mau berangkat ke sekolah.
Situasi yang serba mendadak, tanpa peringatan, dan persiapan itu tentu saja bisa jadi bahan tulisan menarik. Ceritakanlah saja bagaimana repotnya rumah sampean kalau hujan datang di pagi hari. Gambarkan kekesalan hati sampean.
Coba sampean pancing pembaca agar ikut merasakan betapa kisruhnya rumah sampean gara-gara hujan. Perhatian mereka boleh jadi akan berbuah komentar dan simpati … err naiknya traffic dan statistik blog, hehehe …
Carpe diem. Seize the day.
Seseorang pernah berkata begini, “Menulislah hari ini. Lalu diamlah sejenak dan saksikan keajaiban yang terjadi.â€
Orang itu Henriette Anne Klauser, penulis buku Writing on Both Sides of the Brain. Semula saya nyaris tak percaya pada kata-kata itu. Soalnya, bagaimana saya bisa percaya kalau mau mulai menulis saja sudah males duluan? Boro-boro dapat keajaiban.
Sampean mungkin juga pernah mengalami saat-saat seperti itu ketika dulu hendak memulai membuat blog dan mengisinya.
Tapi, coba lihat sekarang. Sudah berapa banyak blog sampean? Berapa kali dalam seminggu sampean mengisinya? Sudah berapa posting yang sampean bikin? Ternyata ndak susah kan mengelola blog itu?
Ingatkah sampean saat-saat awal dulu, ketika pertama kali mau menulis? Mungkin saja sampean merasa gamang, malu, rendah diri, ndak percaya diri, dan banyak lagi perasaan negatif lainnya. Boleh jadi sebaliknya, sampean justru lancar menulis seperti sedang ngebut di atas sedan sport, gas pol. Kenceng banget.
Apa sampean juga masih ingat, apa sebetulnya yang membuat sampean punya perasaan negatif waktu itu? Apa karena merasa belum pernah menulis, lalu takut ditertawakan para pembaca blog yang ganas seperti piranha itu?
Apa pula yang membuat sampean lancar menulis seperti halnya sampean sedang berselancar di atas salju? Apakah karena sampean mendapatkan sensasi tertentu waktu itu?
Jawaban sampean pasti macam-macam. Utarakan dan berbagilah dengan yang lain. Dari sini mungkin kita bisa saling belajar.
Bener banget, just write anything in your mind. klo merasa gak bisa bikin paragraf, bikin kalimat, klo masih gak bisa juga, bikin frase, klo masih gak bisa ya tulis aja satu kata. Dari start yg simple itu, km hanya harus mengembangkan imajinasi ….
oyi oyi
nuwus sam
ngisi blog itu gampang-gampang susah mas!!!
saya aja kadang kewalahan kalo dapet request tips n tricks blogging dari temen2.
http://www.perpustakaan-artikel.blogspot.com
benar juga tuh mending kita tulis satu per satu dan selanjutnya dikembangkan lagi lebih luas, kalau sebelumnya kita masih mikir-mikir terus apa yang akan kita tulis ya akhirnya kita gak akan bisa dapat ide yang kreatif ( alami ).
barang kali ini bisa membantu
http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-1/
http://sanggarpenulisan.wordpress.com/2008/09/12/ibsn-gila-membaca-dan-menulis-2/
http://hmcahyo.wordpress.com/2008/08/17/ketika-macet-mendera/
Makasi – Makasi Bwat Komennya
hihihihih memang semua itu harus serba alami biar bisa keluar dari otak kita
Saya kebetulan menggunakan blogger untuk membuat web tetapi tampilan yang saya gunakan masih kurang bagus seperti blog anda seperti menempatkan artikel caranya bagaimana sih. agar web blog saya juga bisa lebih lengkap ?.
assss
met kenal
wassss
WAH…GAMPANG GAMPANG SUSAH YA…