Belajar dari Kesederhanaan Orang Desa
Tanggal 28 juni 2008 saya diwajibkan mengikuti KKN (kuliah kerja nyata). Kegiatan ini akan berlangsung selama 60 hari. Kuliah Kerja Nyata bertujuan agar para mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dan mentransfer ilmu mereka secara langsung kepada mereka. Program-program yang harus dilaksanakan antara lain pemberdayaan sekolah satu atap, wanawisata husada, pemberantasan buta aksara, potensi ekonomi dan kewirausahaan, dan lain-lain.
Para mahasiswa yang mengikuti KKN ditempatkan di Kabupaten Malang, Batu, dan Blitar. Kebetulan saya ditempatkan di Dusun Maron, Desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang. Di sini kami melaksanakan program potensi Ekonomi dan Kewirausahaan. Mengajari penduduk desa untuk meningkatkan segala potensi yang ada agar terentas dari kemiskinan.
Pada awalnya, posisi kami sebagai orang yang mengajari secara tidak langsung membuat kami berstatus “orang pintarâ€. Rata-rata orang desa hanya mengenyam pendidikan sampai SMP. Tapi, ternyata kami yang biasa menuntut ilmu dan hidup di kota yang maju dan modern harus belajar banyak dari para orang desa.
Contohnya, orang desa bangun tidur pagi-pagi sekali, sebelum subuh. Mereka bangun dan langsung memerah sapi untuk diambil susunya. Setelah itu mereka mandi dan sembahyang, baru mengolah sawah atau kebun. Sedangkan mahasiswa terbiasa bangun agak siang karena malamnya sibuk mengerjakan tugas kuliah atau ngebut belajar karena akan ujian.
Setiap hari kamis di desa diadakan pengajian dan khataman. Para tamu yang datang menyumbang uang semampunya kepada tuan rumah. Para tetangga sebelah pun turun tangan membantu tuan rumah memasak dan membuat kue. Mereka yang penghasilannya tak begitu besar dan capai setelah mengolah kebun dan sawah masih mau membantu tetangganya. Kontras sekali dengan kelakuan orang kota sekarang mulai bersikap egois, pelit, bahkan tidak mau mengenal tetangga dekatnya.
Orang desa juga sangat dermawan dan tidak pelit. Kami sering diberi hasil kebun mereka, seperti kubis, jagung, baby kol, dan labu siam, jadi tidak perlu membeli sayur-sayuran. Bahkan biaya kos kami tidak dipatok oleh ibu kos, beliau hanya mau disumbang seikhlasnya, semampu kita. Apa yang tidak dikenai harga di kota? Kebutuhan dasar seperti air, yang menurut undang-undang diberikan secara cuma-cuma kepada Warga Negara harus dibeli.
Kesederhanaan pola pikir orang desa juga membuat saya kagum. Mereka tidak berambisi tinggi dan ngoyo dalam menjalani hidup. Rejeki apapun yang mereka punya diterima dan disyukuri sebaik-baiknya. Sebaliknya, kehidupan modern yang dianut oleh masyarakat kota, membuat mereka menjadi ambisius, perfeksionis dan tidak pernah puas dengan kesuksesan yang telah dicapai. Akibatnya, orang-orang kota rentan terkena berbagai penyakit seperti stress, migrain, vertigo, serangan jantung, dan stroke.
Status sebagai mahasiswa dan orang kota ternyata tidak boleh membuat saya tinggi hati. Kedermawanan dan kesederhanaan yang dianut oleh orang desa memberi pelajaran hidup yang sangat berharga.
Semoga qta selalu bisa bersyukur atas nikmat yg sudah Allah berikan dan belajar iklas dgn apa yg di perbuat. Amiin ^^
***ceritanya bener2 mantap***
Memang pola hidup orang desa dan kota sangat berbeda, hal ini disebabkan karena faktor lingkungan sekitarnya yang membuat mereka demikian…………coba kalau didesa tersebut dibangun Maal, Cafe, Cineplax, panti pijat, dll……..tentunya pola hidup mereka akan mulai bergeser dan berubah…..
Seharusnya kita memang seperti itu, tapi kini dunia sudah dikuasai oleh pola pikir kapitalisme keinginan untuk mencari untung, keinginan untuk menjadi yang terbaik dkk.
Yach sudah tidak bisa dipungkiri lagi, orang kota rata – rata egois semua
Salam kenal…Saya orang desa yang merantau ke kampung orang ( Tangerang )