Komunitas Blogger Malang (Ngalam) Komunitasnya Arek-arek Blogger Malang (Ngalam) Raya

SBI Sekolah Bertaraf + Bertarif Internasional

05.30.2008 · Posted in Opini

SBI Sekolah Bertarif Internasional

Tingginya biaya masuk ke sekolah berstatus RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional) terungkap. Ternyata, dari sekian sekolah yang mendapat tawaran menjadi RSBI, semuanya hampir memilih format by class.
Pilihan itu membuat sekolah memerlukan dukungan dana besar untuk melengkapi pencapaian standar sarana prasarana dan infrastruktur RSBI. Seperti diketahui, di Kota Malang, ada sembilan sekolah yang sudah menjadi RSBI. Yakni, dua SD (SBI Tlogowaru dan SDN Kauman I), dua SMP (SMPN 1 dan SMPN 5), empat SMA (SMAN 3, SMAN 5, SMAN 1, dan SMA St Albertus), dan dua SMK (SMKN 3 dan SMKN 4). Khusus untuk SMAN 3, statusnya sudah menjadi SBI (sekolah bertaraf internasional).

Menurut Kasi Dikmen (Pendidikan Menengah) Diknas Kota Malang Suyitno, ada dua penawaran dari Depdiknas pada sekolah yang ditunjuk menjadi RSBI. Yakni by class dan by subject. “Sekolah diberi kesempatan untuk memilih sesuai dengan kondisi dan situasi sekolah masing-masing,” ungkap Yit, sapaan akrab Suyitno. Apa itu format by class dan by subject? By class artinya sekolah membuka kelas khusus di luar kelas reguler. Sekolah dengan program by class ini biasanya melakukan penerimaan siswa baru pada tahun ajaran baru. Sedangkan by subject dengan memilih mata pelajaran tertentu yang distandarkan internasional dalam pengajaran.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan pada format by class dan by subject. Hanya saja dari segi pembiayaan, sekolah yang memilih by class perlu menata kesiapan sarana dan prasarananya. Dari RSBI yang ada di Kota Malang, semuanya mengambil pilihan by class, kecuali SMA Dempo. Sedang SMA 3, awalnya by class, tapi sekarang sudah menggunakan by subject.
Mau pintar aja koq mesti mahal, cape dech….

Author:

wake up...!!!!

website: http://ayosendagurau.blogspot.com/

24 Responses to “SBI Sekolah Bertaraf + Bertarif Internasional”

  1. “Mau pintar aja koq mesti mahal”

    justru aLe sepakat loh yang sperti ini, dengan catatan mutu benar2 berkualitas ;)

  2. ya, jer basuki mawa bea. sangat rasional asal proporsional

  3. Tergantung siswanya juga sich…. Klo niat belajar, dimanapun dia di SBI, SSN ato yang standart pasti akhirnya pinter juga???

    Yang mahal kan fasilitasnya, klo ilmunya ya bisa didapet dengan murah kok.

  4. aku merindukan sekolah alam, kita belajar dari alam dan mempelajari alam dimana kita menghargai alam sebagai partner mengapai kebenaran hakiki

    Anti Politik Duit,
    eRween

  5. Kebetulan saya juga mengajar di SMPN 5 Malang dan SMKN 4 Malang.
    Program RSBI di SMPN 5 Malang baru dimulai tahun ajaran 2008-2009. Sedangkan di SMKN 4 Malang semua kelas akan dijadikan RSBI mulai tahun ajaran 2008-2009.
    Apa yang akan didapat warga jika memasukkan anaknya ke sekolah RSBI? Untuk saat ini yang didapat hanya prestise saja sedangkan yang lainnya masih hampir sama dengan yang bukan RSBI. Hanya saja sekolah yang sudah mencanangkan dirinya sebagai sekolah RSBI “harus” mengupgrade kualitas semua pendukung kegiatan pembelajaran agar bisa diukur sesuai dengan standar global (standar yang digunakan oleh negara2 maju di bidang pendidikan). Itulah sebabnya mengapa sekolah RSBI harus mengikuti ISO di bidang layanan dan mutu. Nah untuk mengupgrade kualitas tsb dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
    Sesungguhnya kalau saja peran serta masyarakat sekitar sekolah sangat tinggi maka biaya sekolah bisa menjadi lebih murah.
    Ilmu itu memang gratis karena ilmu adalah pemberian dari Tuhan. Sama halnya dengan air, air itu gratis tapi air akan menjadi mahal jika dihadirkan dalam bentuk kemasan. Yang membikin sekolah jadi mahal, salah satunya adalah sarana dan prasarana yang disediakan. Masih banyak lagi variable yang menyebabkan sekolah menjadi mahal.
    Sekolah alam? hmmm … di daerah sawojajar 2 ada sekolah alam (TK) yang tiket masuknya lebih mahal dari SMPN 5 Malang, untuk “menjadi” mahal tidak harus menjadi RSBI dulu, tapi lebih kepada prestise yang ditawarkan. Coba bandingkan harga tiket masuk ke TK BA Restu, MIN 1 dengan sekolah2 yang sejenis. Mereka menjadi mahal apakah karena sekolah2 tsb telah menjadi sekolah SBI? Tidak juga kan ….
    Kebanyakan dari kita masih memuja prestise daripada kualitas. Sebagai gambaran, ada mahasiswa “kurang pintar” lulusan Universitas Ternama dengan mahasiswa “sangat pintar” lulusan Universitas Terbukak sama2 mendaftar ke perusahaan yang sama dan posisi yang sama. Kira2 di antara ke 2 mahasiswa tsb manakah peluangnya yang lebih besar untuk diterima?

  6. standart mutu kan ngaruh juga ke harga :D

  7. Keadaannya amat jauh beda dengan apa yang dicontohkan oleh gurunya gurunya gurunya guru kita dulu. Orientasi pendidikan sekolah sekarang banyak bersifat materi. Mata pelajaran sekedar jadi kewajiban pengisi rapor saja tapi pendidikan mental dan akhlak hampir tak terasa ataupun terasa hanya sebatas lips service. Hampir tak terasa keterikatan batin antara guru dan murid.

    Sekolah dibayangkan semata-mata untuk kerja cari duit. Ya sekolahnya ya pemerintahnya ya pejabatnya ya tivinya.. semuanya bahkan memberi tauladan yang bertolak belakang dengan pendidikan di sekolah, binun murid-murid dibuatnya…

    Sepertinya kok nggak ada Taraf Internasional disini yang sebanding dengan ongkosnya.. mahalnya terlalu dibuat-buat! komoditi bisnis! UUD juga..

    Kalo mau pendidikan total tuh mau gak mau adalah boarding school alias skolah berasrama yang diisi pelajaran agama dan praktek diawasi 24jam!.. nek muride gak nurut kaplok ae! tapi syaratnya gurunya musti sembahyang sregep.. wes dijamin jadi tuh muridnya… aduh maap agak esmosi ni. piss :D

  8. Dulu? hmmm sekedar nostalgia jaman SD saya dulu, saya sekolah di Kota Bululawang ;-) . Jarak ke sekolah 10 km saya tempuh jalan kaki lewat pematang sawah, jarang sekali teman2 sekolah bersepatu. Gurunya? Berwajah ‘sangar’, pelit senyum, selalu bawa tongkat pemukul, jika ada siswa yang ‘gak manut’ atau ‘gak perhatian’ sama pelajaran atau ‘gak hafal’ materi pelajaran alamat pantat ini ‘dielus-elus’ ama tongkat pemukul. Bayar sekolah seadanya karena SD impres. Kalau ketemu guru di jalanan, semua teman2 pada berlarian untuk sembunyi. ‘Isin’ jarene teman2. Buku tulis 1 buah untuk semua pelajaran, kalau sudah naik kelas, isi buku tulis ‘disetip’ agar bisa digunakan lagi. Buku pendukung pelajaran? Dipinjami oleh sekolahan n ndak boleh dibawa pulang.
    Bandingkan dengan murid sekarang, pergi sekolah diantar pake kendaraan, peralatan sekolah lengkap, materi penunjang sekolah terpenuhi, gurunya dilarang memukul ke siswa, jika terjadi pemukulan dilaporkan ke KomNas HAM dan Perlindungan Anak, nilai siswa minimal harus 75 (kalau jaman dulu kalau 4 ya 4), perilaku siswa berpedoman pada tayangan sinetron2 (kalau dulu panutannya adalah orang tua – karena TV jarang yang punya), figur guru di mata siswa sekarang bukan figur yang harus “digugu” dan “ditiru” tetapi sudah bergeser sebagai “teman” dalam berbagi ilmu. Kalau ketemu guru yang cakep apalagi jomblo, bisa-bisa diteriaki rame “Pak/Bu …. ai lof yuuuu”

    ya jaman sudah berubah, kata pujangga dulu “saiki jamane jaman edan, yen ora edan ora keduman”. Sopo melu edan?
    Meskipun kota ini dikenal sebagai kota singo edan, aku ora melu-melu edan ben ora kumat-kumatan ;-)
    s/o/r/r/y/ /s/e/d/i/k/i/t/ /c/u/r/h/a/t/

  9. Memperdebatkan sekolah mahal dan murah tidak akan ada ujungnya, entah itu SBI, SBN dan standart apalah yg membikin bingung orang tua siswa. dari pada memperdebatkan biayanya kenapa tidak kita persiapkan biayanya mulai sekarang, mulailah “memesan” bangku sekolah anak kita sampai tingkat universitas mulai dari sekarang. Yakinlah karena biaya sekolah tidak akan pernah turun kecuali ada dermawan yg berbaik hati. menunggu pemerintah…? kesuwen jess, selak ubanan

  10. wah..wah.. ngga kerasa sman 1 malang udah sbi. ku kira cuman punya aksel doank tu skul. tamba bangga juga deh.

    Tapi, juga kalo ttg harga internasional kan bener. kayak kata trinity di naked traveller, ada harga ada mutu.

  11. Sekolah berkualitas tentu saja mahal karena harus menyediakan fasilitas yang berkelas internasional, salah satunya lembaga tersebut harus memiliki sertifikasi ISO 9001:2000 baru dapat dikatakan sebagai sekolah berstandar internasional tapi kalo belum ada sertifikasi ISOnya bisa-bisa mutu sekolah jadi pertanyaan besar??? karena ISO 9001;2000 adalah standar manajemen mutu internasional, nah kalo manajemen sekolah aja belum ada sertifikasi ISOnya, apa iya mutunya bisa disamakan dengan sekolah internasional….

  12. mengenai sekolah mahal or international n nasional…sy jadi ingat tujuan sebenarnya saat memasukkan anakku sekolah, sebenarnya tujuan saya saat itu adalah mencari sekolah dimana proses pendidikan pada anak saya untuk menjadikan dia lebih mandiri, keislamannya kuat, punya rasa kebangsaan, keilmuwan, dan lingkungan yang akan merespon/memberi ruang untuk segala yg menjadi tujuan saya itu. dari situ akhirnya terseleksi dan diseleksi anak saya melalui test2. sekaligus saya menseleksi sekolah2 dimana anak saya akan saya daftarkan. memang akhirnya saya daftarkan sekolah yg sesuai dg kriteria itu. dan emang mahal. di terima harus cash 8jt-an, and spp/bln 450rb-an. untuk saya mahal itu..tapi untuk sebuah harapan itu bukan sesuatu yang mahal, tapi itu adalah sesuatu yg harus diperjuangkan. saya pikir byk org berpikiran sama dg sya..lah wong utk test aja yg ikut hampir 3xlipat kapasitasnya. dan yg jelas harga diatas sudah diketahui saat pendaftaran jadi nda ada tuh sumbangan sukarela..dll. akhir saya secara pribadi berkesimpulan, untuk sebuah proses pembentukan pasti ada cost yg keluar dan itu harus sepadan dg potensi yg diinginkan. dan ini nda bisa dibandingkan dengan jaman kita dulu. jadi sekolahkan anak kita dan arahkan ke kebaikan, fasilitasi sesuai kemampuan dan perjuangkan cita2 nya, selebihnya biar anak yg memilih jalannya dan Tuhan yg menentukan. thx

  13. Saya juga punya putri yang sekolah di SBI Tlogowaru. Awalnya sih bangga banget, soalnya sekali tes masuk langsung ditrima. Tapi menginjak di taun ke 2, koq malah materi yang diributin sama kepala sekolah. Dan yang bikin agak memprihatinkan adalah belum tertatanya sistem administrasinya. Hal ini terbukti sudah hampir 2 minggu ini jadwal pelajaran juga masih menggunakan jadwal taun pertama. Harusnya disiapkan minimal sejak liburan sekolah. Masak murid libur gurunya juga libur, sampe-sampe gak sempat buat jadwal?

  14. Begitulah di indonesia….yang mengekor ke amerika mengkapitalisasi/memperdagangkan pendidikan. Padahal seharusnya negara bertanggungjawab memberi/membiayai pendidikan…bukannnya menjual terus aset-aset negara sehingga tidak membiayai pendidikan..begitulah sistem kapitalisme demokrasi….makanya terapkan syariah insyaAllah hidup mulia

  15. knapa tidak ada bos buku sbi????????????????????????????????????????

  16. SBI bayar’y ajh mahal????bls gpl…

  17. Software “Sistem Informasi Sekolah 4.0″ dapat didownload di
    http://www.multicom.cq.bz

    Terima Kasih atas perhatiannya

  18. mau SBI yang gratis ???? di Sukoharjo ada 2 SBI, yaitu SMP N 1 dan SMP N 3 semuanya GRATISSS…TIS..TIS…elok to cak…?

  19. ada yang punya contoh proposal untuk RSBI? kirim dong…!

  20. SBI bukannya diperuntukkan bagi siswa yang akan meneruskan kuliah ke negeri antah-berantah, berarti siswa dasarnya memang pintar dan punya dana. Mudah-2an mereka nantinya pulang ketanah air dan menggantikan pemimpin-2 ysng pada dasarnya tidak pintar dan tidak punya dana, sehingga memperkecil budaya korupsi.

  21. Dadang Yudhistira says:

    SBI bukan tujuan tapi harus jadi impian, agar bangsa ini bisa cepat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini yang makin transparan dan global. Yaa udah saatnya siswa kita mampu bersaing di tingkat global, melalui penguasaan kompetensi keinternasionalan. Siswa miskin tapi pintar, wajib dibiayai oleh pemerintah, tapi wong sugih mah ya sharing dana dong… Masa iya sih mau gratis juga???

  22. hhahaha, RSBI di malang ya,
    saya siswa RSBI di bandar lampung,
    kerasa banget mahalnya, saya kasian juga sama ortu saya, spp nya 2 kali lipet yang reguler, uang masuknya 4 x lipat , bukunya apa lagi, 1 buku bisa hampir 5oo ribu, haduuhhh .. emang dasar bertarif internasional, saya kekeuh mau masuk karena saya dulu pas smp udah masuk bilingual ajah, karena mnurut saya, kurikulum luar lebih simple, nggak kaya kurikulum nasional , dan alhamdulilah diterima di sbi padahal tesnya blibet naudzubillah,

    jadi buat para sbi sbi di luar sana,
    yah harap maklum aja, mau pinter harus mahal ,,

  23. Memang, tak hanya di Malang. Di Provinsi Jawa Barat pun seperti itu, dan juga di daerah-daerah Indonesia lainnya.

    Beberapa waktu lalu saya pernah wawancara dengan Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan. Beliau berkata bahwa di Indonesia ini tidak ada sekolah yang murah. Semuanya memang mahal. Karena itu, pemerintah memberikan bantuan lewat dana BOS de el el.

    Buat lebih jelasnya, buka aja blog aku…

    deliabilda-tiemuttaqin.blogspot.com

    Kalau dana yang 20% untuk pendidikan tuh udah keluar belum sih..??

    Moga aja lewat dana itu bisa membantu pendidikan kita biar tidak selalu di bawah.

    Lagi pula, kayaknya mengekor banget kalo ada status-status gitu..

    Buat apa coba kalo punya status yang buagoozz tapi toh cuma 5%an yang sukses banget..??!!

    Ironi memang, namun apa mau dinyana.
    Begitulah yang terjadi dan sudah melekat.

    Mmh..

    Kira-kira setelah SNBI dan SSI mau ada apa lagi ya..??

    Mau mengekor lagi..??

    Kayak’y kita ‘g perlu degh berlomba cuma buat numpang beken lewat status SNBI atau SSI..

    Justru mesti di upgrade tuh prestasi-prestasinya…
    Jangan hanya di lokal dan regional aja..

    Diharapkan sie bisa di dunia Internasional..

    Sedih banget khan kalo yang wakilin Indonesia di muka dunia itu bukan wajah asli orang Indonesia..??

    Toh nanti juga masyarakat dan dinas pendidikna pasti bisa ngenilai.. Mana sekolah yang bagus dan mana sekolah belum luar biasa!!

    Majulah Indonesiaku!

  24. Klo bicara sekolahnya, SBI sepertinya bisa mengikuti persaingan global, tapi itu lho sebagai guru pengajar SBI di …………, kami serasa kurang dihargai dibandingkan biaya yg diperoleh dari siswa.Dengan Rp 12.500/ jam pelajaran+(Rp 12.500+ 4 kali pertemuan) itulah y kami peroleh/bulan.Kalau sudah begini……………..bagaimana yang lain?Sementara dsp Rp 5 jt spp/bln 350rb/siswa. Mudah2an pahala kami diterima semua amieen.

%d bloggers like this: